Oleh-oleh Untuk Mama
dibungkus kertas tipis plasenta
berpita ari-ari
diwadahi rahimku sendiri
sedetik kemudian aku terbius lagi. menganga dalam kehampaan kosmos maya. terjerumus ke dalam palung-palung hitam kegagapan. menebak-nebak lagi, kemana aku harus pergi. mungkin aku tak harus pergi. mengapa aku tak tetap tinggal disini, menanti dengan sabar ketegangan-ketegangan semu yang bakal hadir di depan bola mataku?
Opening page
ribuan matahari berkumpul hari ini. mencoba mematahkan satu demi satu semangat dan kerinduan yang nyata. kucoba menerobos ke tali-tali batas, melanggar semua kesebandingan, menjadi liar, menjadi absurd. derap-derap langkah menginjak-injak gendang telingaku dengan sepatu-sepatu larsnya. kudapatkan kembali tubuhku terbaring hampir tak berdaya di garis batas, menghalangi barisan teratur kepatuhan.
Downloading pictures
dadaku menjadi lautan. berdebur bersama gumpalan-gumpalan padat, menyesakkan. semua berawal dengan tanya. sampai aku cukup punya nyali, untuk mengumpulkan imaji-imaji. rasanya aku tak pernah menanti selama ini. penantian yang sesak, jenuh, memuakkan! mengapa aku tak pernah ingin pergi? mengapa kakiku masih saja tertancap di tanah-tanah kosong yang tak pernah aku kenali? gambaranku semakin memudar, berpendar bersama radiasi, mengotori hijau-hijaunya, jadi polusi. mataku mulai lelah...
Done
kuingin berakhir. semuanya. tapi apa yang kubisa, selain menancapkan pisau-pisau ini ke dada atau kusundut saja tanganku dengan puntung-puntung menyala. keresahan ini bukan yang terakhir. benang-benang merahnya masih terburai di lengan bajuku yang kurobek kemarin.
dan akhirnya kita hanya bisa tercenung disini
menatap angka-angka menakjubkan
dari sekian persen pemahaman
apakah aku akan berlaku adil atau tidak.
(tapi itu tidak penting sepertinya. aku juga tidak akan
berlaku adil. seperti kau anggap itu adil. aku juga akan
menghujatmu dengan beribu cerca yang aku punya, hanya untuk
bilang kalau kau tak seadil yang aku kira)
angka-angka itu berputar-putar
mengerubungi galonan darah muda yang tercecer di gudang-gudang ilmu
menstimulasi semangat palsu dengan standarisasi
bahwa tahi itu selalu keluar dari pantat!
(kakekku suatu kali pernah berkata, bahwa sesungguhnya udang itu bukan makhluk bodoh. cuma dialah di alam fana ini yang mampu bertindak dengan kepala penuh tahi! bukankah itu ciptaan yang sangat jenius?)
sang filsuf pun keluar dari dalam lift
kaca mata bulan rambut punkrock dasi kupukupu
menitahkan pada dunia tuk kembali menggunakan perasaan
seketika itu juga dia dibunuh rajam
tak ada gunanya bicara perasaan di depan hidung dekan!
(suatu kali pula satu setan botak berkata: "ketika lensa-lensa itu memotret kehidupan yang berwarna, dia hanya akan melukiskan kehidupan. ketika lensa-lensa itu mengabadikan hanya dengan dua warna, hitam putih tentunya, maka dia telah menceritakan kehidupan." enam bulan kemudian dia berkata: "sejujurnya aku buta warna")
excuse me, mister
i had enough...
kemarin, kita duduk bersebelahan mengaduk bintang-bintang dengan air mata. tapi bintang-bintang itu masih bergelantung di sana, di kelam langit pujaan. apakah kau lihat kerlip-kerlip mimpi kita masih tergantung manis di pucuk-pucuknya? senantiasa mengingatkanku pada sebuah cinta sepanjang masa. saat tubuh-tubuh kita begitu lekat berdekap dalam tangis, kupasrahkan satu-satunya jiwa mengalir di pangkuan Yang Maha.
ucapanmu terngiang, selalu terngiang, tentang kebetulan-kebetulan tak terduga yang selalu hadir di tiap detik kehidupan, seperti iklan rokok yang kubaca ketika aku melepasmu di stasiun itu.
tetap satu yang kuminta, tulislah puisi. tentramkan hatiku walau dengan kata-kata. biar kucerap bait-baitnya bersama keheningan yang memeluk mesra dan wajahmu jadi ilustrasinya. tulislah puisi, karena kita bakal merindu.