Thursday, June 30, 2005

Oleh-oleh Untuk Mama

oleh-oleh untuk mama
dibungkus kertas tipis plasenta
berpita ari-ari
diwadahi rahimku sendiri

Website Found, Waiting for Reply

sedetik kemudian aku terbius lagi. menganga dalam kehampaan kosmos maya. terjerumus ke dalam palung-palung hitam kegagapan. menebak-nebak lagi, kemana aku harus pergi. mungkin aku tak harus pergi. mengapa aku tak tetap tinggal disini, menanti dengan sabar ketegangan-ketegangan semu yang bakal hadir di depan bola mataku?

Opening page

ribuan matahari berkumpul hari ini. mencoba mematahkan satu demi satu semangat dan kerinduan yang nyata. kucoba menerobos ke tali-tali batas, melanggar semua kesebandingan, menjadi liar, menjadi absurd. derap-derap langkah menginjak-injak gendang telingaku dengan sepatu-sepatu larsnya. kudapatkan kembali tubuhku terbaring hampir tak berdaya di garis batas, menghalangi barisan teratur kepatuhan.

Downloading pictures

dadaku menjadi lautan. berdebur bersama gumpalan-gumpalan padat, menyesakkan. semua berawal dengan tanya. sampai aku cukup punya nyali, untuk mengumpulkan imaji-imaji. rasanya aku tak pernah menanti selama ini. penantian yang sesak, jenuh, memuakkan! mengapa aku tak pernah ingin pergi? mengapa kakiku masih saja tertancap di tanah-tanah kosong yang tak pernah aku kenali? gambaranku semakin memudar, berpendar bersama radiasi, mengotori hijau-hijaunya, jadi polusi. mataku mulai lelah...

Done

kuingin berakhir. semuanya. tapi apa yang kubisa, selain menancapkan pisau-pisau ini ke dada atau kusundut saja tanganku dengan puntung-puntung menyala. keresahan ini bukan yang terakhir. benang-benang merahnya masih terburai di lengan bajuku yang kurobek kemarin.

Kompilasi Abu-abu

dan akhirnya kita hanya bisa tercenung disini
menatap angka-angka menakjubkan
dari sekian persen pemahaman
apakah aku akan berlaku adil atau tidak.

(tapi itu tidak penting sepertinya. aku juga tidak akan
berlaku adil. seperti kau anggap itu adil. aku juga akan
menghujatmu dengan beribu cerca yang aku punya, hanya untuk
bilang kalau kau tak seadil yang aku kira)

angka-angka itu berputar-putar
mengerubungi galonan darah muda yang tercecer di gudang-gudang ilmu
menstimulasi semangat palsu dengan standarisasi
bahwa tahi itu selalu keluar dari pantat!

(kakekku suatu kali pernah berkata, bahwa sesungguhnya udang itu bukan makhluk bodoh. cuma dialah di alam fana ini yang mampu bertindak dengan kepala penuh tahi! bukankah itu ciptaan yang sangat jenius?)

sang filsuf pun keluar dari dalam lift
kaca mata bulan rambut punkrock dasi kupukupu
menitahkan pada dunia tuk kembali menggunakan perasaan
seketika itu juga dia dibunuh rajam
tak ada gunanya bicara perasaan di depan hidung dekan!

(suatu kali pula satu setan botak berkata: "ketika lensa-lensa itu memotret kehidupan yang berwarna, dia hanya akan melukiskan kehidupan. ketika lensa-lensa itu mengabadikan hanya dengan dua warna, hitam putih tentunya, maka dia telah menceritakan kehidupan." enam bulan kemudian dia berkata: "sejujurnya aku buta warna")

excuse me, mister
i had enough...

Kita Bakal Merindu

kemarin, kita duduk bersebelahan mengaduk bintang-bintang dengan air mata. tapi bintang-bintang itu masih bergelantung di sana, di kelam langit pujaan. apakah kau lihat kerlip-kerlip mimpi kita masih tergantung manis di pucuk-pucuknya? senantiasa mengingatkanku pada sebuah cinta sepanjang masa. saat tubuh-tubuh kita begitu lekat berdekap dalam tangis, kupasrahkan satu-satunya jiwa mengalir di pangkuan Yang Maha.

ucapanmu terngiang, selalu terngiang, tentang kebetulan-kebetulan tak terduga yang selalu hadir di tiap detik kehidupan, seperti iklan rokok yang kubaca ketika aku melepasmu di stasiun itu.

tetap satu yang kuminta, tulislah puisi. tentramkan hatiku walau dengan kata-kata. biar kucerap bait-baitnya bersama keheningan yang memeluk mesra dan wajahmu jadi ilustrasinya. tulislah puisi, karena kita bakal merindu.

Friday, May 13, 2005

PERCA

sedikit demi sedikit
kebisuanku terjahit
menjadi selimut panjang
dan berlubang

SECANGKIR KOPI, SEBUNGKUS ROKOK DAN OBROLAN PAGI HARI

secangkir kopi, sebungkus rokok, dan obrolan pagi hari
kita mulai saja dengan memaki matahari suam-suam kuku
dan angin yang menghembuskan tubuh-tubuh kecil kita
kembali dibuai selimut tebal bau dari ibuku
air dingin itu terlalu mahal sepertinya
untuk dibuang begitu saja atas nama kebersihan badan kita
dan kita mulai berpikir kalau kita mulai gila
kulit mulai mengelupas mengering membau
mulut tak pernah berhenti bergumam
betapa hari ini begitu menyebalkan
walau kopi itu terlalu cepat dingin
beruntunglah sang gelas karena dialah yang pertama kali
menyentuh bibir-bibir merona kita hari ini
lantas kita mulai mengutuki tiap lawan jenis yang kita temui
tapi tamu tetanggaku itu ganteng juga
tak semua dari mereka bangsat, sayang...
mungkin tukang bakso itu lelaki paling hebat sepanjang masa
mungkin saja, tanyakan saja padanya
atau kita memang perempuan yang tak pernah akan terjamah
siang sudah begitu tinggi dengan matahari yang muncul malu-malu
sementara tubuh-tubuh liat kita masih terbalut selimut tebal bau dari ibuku
sabarlah, minggu depan aku cuci selimut ini
dan akhirnya kita menemukan jawaban
mengapa tak juga seorang pun tahan
tapi biarkan
yang kita butuhkan hanya secangkir kopi, sebungkus rokok, dan
sebuah pagi dengan satu senyuman

Tuesday, May 10, 2005

JIKA KAU TAK DATANG

jika kau tak datang,
kuabdikan sepersekian sepi menjadi salju di musim dinginmu
menguburmu dalam-dalam di kiputih mimpi
menanti cahaya diutus cinta


pantai utara, 25 Mei 2002

KE LAUT SAJA

sendiri, meludahi matahari
menelanjangi sepi kesekian kali

sementara bentang harap melebar
celah retak ruang dada lama lelah mendebar

seperti gemuruh langit yang lama kecewa
teriakku menghambur ke hitam semesta

bila tak jua kau lihat lebam di sudut mata
khilaf batin mencuat memburu senja

kukucurkan semua tanya ke laut saja


-pantai utara, 24 Mei 2002.

BEGINILAH

Jika aku ingin mencoba menguntai-untai permata kata-kataku
Menyemut hasrat yang ingin kutoreh di lembar-lembar pagi
Merajuk mentari yang masih malas melihat wajah manusiaku
Sembari kucakar-cakar karpet lusuh lantai kamarku
Gelora yang tak mungkin aku hindari sungguh
Tapi musti apa?
Hanya cacing aku dengan mulut sebesar biawak
Menganga tak malu tercurah ludah ke tanah
Padahal aku hanya mau bilang :

Aku cinta padamu

CIRCLE K

Hari ini kita kembali bersama
Dengan dua botol bir di tangan kanan
lintingan tembakau di tangan kiri.
Mau apa kita sekarang?
Disini. Hanya disini.
Trotoar ini masih cukup luas untuk kita berdua
Masih cukup luas untuk kita bicara
Apa saja
Apa saja kita bicarakan
Masalahmu
Dan setumpuk masalahku
Tidak ada yang dengar. Tidak.
Paling-paling kecoa yang lewat di depan kita.
Bicaralah. Bicara saja.
Hanya Kau, Aku, dan kecoa itu.
Sedikit nostalgia tidak ada salahnya.
Waktu itu...
Waktu itu...

Hahaha!

Tertawalah. Tertawalah tentang kita.
Mungkin kecoa itu juga ikut tertawa. Siapa tahu.
Tak pernah kudengar kecoa tertawa.
Tertawalah sekeras-kerasnya.
Mumpung tidak ada polisi atau hansip yang menganggap kita gila
dan memasukkan kita ke rumah sakit jiwa.
Paling-paling orang-orang yang lewat.
Mereka juga tidak akan bilang kita gila.
Mereka ingin juga seperti kita.
Duduk disini. Di trotoar lembab ini.
Di tengah kepungan angin dingin ini.
Dan jangan lupa.
Botol bir di tangan kanan
Lintingan tembakau di tangan kiri.
Ha!!

Kita adalah raja-raja malam ini.
Kau, Aku, dan Kecoa itu.
Tak ada yang bisa menghentikan kita
Untuk bicara dan tertawa.
Tidak ada!

Hingga pada saatnya kita memaki diri sendiri.
Lalu memaki sang waktu.
Memaki segalanya!
Sialan!!

Hingga pada saatnya Kau ke kanan dan aku ke kiri.
Pada saatnya kita berjalan sendiri-sendiri
Tanpa tahu kapan kita bisa bicara lagi.
Tanpa tahu kapan kita bisa bertemu Kecoa itu lagi.
Tanpa tahu kapan kita bisa duduk-duduk di trotoar itu lagi.
Tanpa tahu kapan angin bisa berhembus dengan dingin yang sama seperti malam ini.
Tanpa tahu...

Ah...
Lebih baik kita bicara saja malam ini. Tertawa-tawa.
Siapa tahu besok kau bukan temanku lagi.


-September 12th,2001-

ADALAH AKU

Kalau saja pintu itu tak pernah lagi terbuka
Dan jendela-jendela ini pun semakin tua
Adalah aku
Yang menghuni bilik kecilmu
Menyeka debu-debu
Menghias-hias tiap sudutnya
Adalah aku
Yang berdiri di pintumu
Merentang harap tuk kembali

LAYANG-LAYANG DI PADANG ILALANG

ejak-jejak yang masih berbekas
Walau angan saja
Tak 'kan sampai waktu

Rinaimu yang masih terasa
Kaulah renjana yang kucinta
Tetaplah berbeda
Walau habis waktu
Masih jadi pintaku
Tuk lahir kembali

Jejak-jejak masih kulihat
bersama badai
bersama riuh bayu kelana
Tetaplah berbeda

ARANG

Mungkin hanya kita
Berputar dalam hitungan waktu
Lalu terbakar
Luruh tubuh sungguh
Hanya jelaga tinggal di jemari
Tuk tuliskan namamu

Monday, May 09, 2005

SEBUAH PINTU DAN SURATKU

lembar-lembar malam ada di genggaman, berisi jutaan
salam yang pernah dialamatkan bulan. aku tak ingin
menjajakan kelelahan demi sebungkus iba. aku ingin
terburai, terburai begitu saja tanpa
pertanyaan-pertanyaan tentang lembar-lembar malam yang
kukirimkan kemarin siang. ke pintuMu.




(24 april 2005)